Senin, 12 November 2012

‘Sholat’ Bima

Ketika disebut nama ‘Bima,’ maka kita akan tertuju pada sosok yang tinggi-besar, gagah berani dengan gadha rujakpala sebagai senjatanya dan kuku di ibu jarinya yang cukup panjang yang disebut dengan pancanaka. Dan di masa kini, tidak aneh ketika ada laki-laki dengan perawakan yang tinggi-besar, sering kali dijuluki sebagai Bima.

Bima adalah salah satu dari anggota pandawa lima. Tokoh yang dikenal dengan sebutan Bayusutha ini adalah putra ke dua dari Dewi Kunthi Talibrata dan Prabu Pandu Dewanata. Gatot kaca adalah putranya dari Dewi Arimbi, seorang tokoh yang dikisahkan memiliki ras raksasa. Dia putra ke dua setelah Yudhistira. Tiga tokoh adik Bima secara berurutan masing-masing Arjuna (Pemadi), Nakula dan Sadewa.
Sosok Bima digambarkan sebagai tokoh dengan perawakan tinggi, tatapan tajam namun menunduk dengan punggung belakang lebih tinggi. Dia juga memiiliki gelang sapit urang.
Gambaran-gambaran yang melekat pada sosok Bima itu, tidak terlepas dari symbol-symbol, ajaran-ajaran. Ajaran Islam, adalah salah satu yang memiliki kans besar dalam menafsirkan sosok dari Bima itu (Tentunya tanpa mengurangi kekayaan penafsiran dalam bebagai disiplin ilmu lainnya).
Dalam Islam, Pandawa Lima ini bisa saja diqiyaskan dengan Rukun Islam yang lima. Dan Bima jatuh pada rukun Islam yang ke dua, Sholat.
Melihat jasad wadag sosok Bima (tinggi-besar, muka selalu menunduk dan bagian belakanganya lebih tinggi), bisa diartikan itu merupakan gambaran seseorang yang sedang sholat. Bima dikenal sebagi tokoh yang kekeuh dengan pekerjaannya, dan tidak akan melayani permintaan orang lain saat mengerjakan pekerjaannya itu. Ini bisa diartikan bahwa, dalam keadaan apapun, ketika sudah memiliki kewajiban, Sholat tidak bisa ditinggalkan. Sholat muthlaq untuk segera dilaksanankan ketika sudah memenuhi syarat-syaratnya.
Bima adalah anggota Pandawa lima dengan berbagai macam kesaktian yang dimilikinya. Gadha rujakpala kuku pancanaka adalah sebagian kesaktian yang dimiliki oleh Bima. Ini memiliki arti, bahwa ketika sholat yang ditunaikan tidak hanya dan sekedar rutinitas, maka akan menjadi sebuah kekuatan yang tanguh. Ketika sholat bener-bener diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maka itu akan menjadi tiang yang sangat kokoh bagi kita.
Ketika jasad wadag Bima adalah gambaran orang yang sedang sholat, maka kesaktian-kesaktian yang dimilikinya adalah atsar dari sholat itu sendiri. Bukankah di dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa Sholat adalah tiangnya agama?
Wallahu ‘alam
Beberapa referensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar