Ketika disebut nama ‘Bima,’ maka kita akan tertuju pada sosok yang tinggi-besar, gagah berani dengan gadha rujakpala sebagai senjatanya dan kuku di ibu jarinya yang cukup panjang yang disebut dengan pancanaka. Dan di masa kini, tidak aneh ketika ada laki-laki dengan perawakan yang tinggi-besar, sering kali dijuluki sebagai Bima.
Bima
adalah salah satu dari anggota pandawa lima. Tokoh yang dikenal dengan
sebutan Bayusutha ini adalah putra ke dua dari Dewi Kunthi Talibrata dan
Prabu Pandu Dewanata. Gatot kaca adalah putranya dari Dewi Arimbi, seorang
tokoh yang dikisahkan memiliki ras raksasa. Dia putra ke dua setelah
Yudhistira. Tiga tokoh adik Bima secara berurutan masing-masing Arjuna
(Pemadi), Nakula dan Sadewa.
Sosok
Bima digambarkan sebagai tokoh dengan perawakan tinggi, tatapan tajam
namun menunduk dengan punggung belakang lebih tinggi. Dia juga memiiliki
gelang sapit urang.
Gambaran-gambaran
yang melekat pada sosok Bima itu, tidak terlepas dari symbol-symbol,
ajaran-ajaran. Ajaran Islam, adalah salah satu yang memiliki kans besar
dalam menafsirkan sosok dari Bima itu (Tentunya tanpa mengurangi
kekayaan penafsiran dalam bebagai disiplin ilmu lainnya).
Dalam
Islam, Pandawa Lima ini bisa saja diqiyaskan dengan Rukun Islam yang
lima. Dan Bima jatuh pada rukun Islam yang ke dua, Sholat.
Melihat jasad wadag sosok
Bima (tinggi-besar, muka selalu menunduk dan bagian belakanganya lebih
tinggi), bisa diartikan itu merupakan gambaran seseorang yang sedang
sholat. Bima dikenal sebagi tokoh yang kekeuh dengan
pekerjaannya, dan tidak akan melayani permintaan orang lain saat
mengerjakan pekerjaannya itu. Ini bisa diartikan bahwa, dalam keadaan
apapun, ketika sudah memiliki kewajiban, Sholat tidak bisa ditinggalkan.
Sholat muthlaq untuk segera dilaksanankan ketika sudah memenuhi
syarat-syaratnya.
Bima adalah anggota Pandawa lima dengan berbagai macam kesaktian yang dimilikinya. Gadha rujakpala kuku pancanaka adalah
sebagian kesaktian yang dimiliki oleh Bima. Ini memiliki arti, bahwa
ketika sholat yang ditunaikan tidak hanya dan sekedar rutinitas, maka
akan menjadi sebuah kekuatan yang tanguh. Ketika sholat bener-bener
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maka itu akan menjadi tiang yang sangat kokoh bagi kita.
Ketika jasad wadag Bima adalah gambaran orang yang sedang sholat, maka kesaktian-kesaktian yang dimilikinya adalah atsar dari sholat itu sendiri. Bukankah di dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa Sholat adalah tiangnya agama?
Wallahu ‘alam
Beberapa referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Pandawa#Bima
Tasawuf Jawa, Dr Purwadi
Tasawuf Jawa, Dr Purwadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar